website statistics
Home » Banuaku » Budaya Antri dan Opportunist
Budaya Antri dan Opportunist

Budaya Antri dan Opportunist

Budaya antri dan opportunist tanpa kita sadari seringkali kita jumpai dalam kehidupan sehari hari. Contohnya seperti yang saya alami pagi ini.

Pagi ini, setelah mengantar dua anak kesayangan saya ke sekolah, jam 7:45 pagi saya bermaksud membeli sarapan pagi di salah satu warung kecil di bilangan jalan Pangeran Antasari Banjarmasin.

Kepadatan pembeli di warung H. Ijum pagi ini sebenarnya dalam keadaan padat dan lancar. artinya segala sesuatu seharusnya berjalan normal. Dengan santai saya pun ikut mengantri. Di depan saya ada 2 orang ibu ibu yang sudah dilayani oleh pemilik warung. Belum sempat saya berbicara untuk memesan, sudah datang 2 pasang suami isteri, 1 orang ibu dan 2 orang ibu dan anak, tanpa basa basi langsung mengambil posisi antri di depan saya. wow ibu wow.

Sebenarnya terlintas dalam hati untuk menegur mereka yang nyerobot antrian saya ini, tapi kali ini, untuk pagi ini, saya coba untuk bersabar. Kebetulan saya ingat kata kata bijak: “Orang Sabar di Sayang Tuhan”. Mudah2an kedepannya, saya juga bisa tetap bersabar ~_~ amiiin.

foto Budaya Antri dan Opportunist   13010053

Illustrasi Warung Makan - (cityguide.kapanlagi.com)

Kejadian ini mengingatkan saya dengan ucapan pak Riza Aspahani. Pak Riza panggilan akrab beliau, berbicara di sela sela pengajaran beliau dalam mata kuliah Algoritma dan Pemrogramman yang saya ikuti. Beliau berkata, Banjarmasin di mata kita adalah kota yang damai, tidak ada demo tiap hari, tidak ada kerusuhan dll.

Sebenarnya kota Banjarmasin ini memang kota yang damai. Tapi bukan karena “damai” itu yang menyebabkan jarang ada demo di kota ini, sebenarnya…, tidak ada demo di kota ini karena masyarakat banjarmasin itu “kurang peduli” !.

Mereka yang melakukan demo itu karena mereka peduli terhadap suatu hal, makanya mereka lalu melakukan demo. kata pak riza lagi.

Ketidakpedulian ini bisa kita lihat lagi saat berlalu lintas di jalan raya, coba saja anda mau memutar jalan, pasti tidak ada yang mau memberi jalan untuk anda, kecuali anda terobos langsung.

Ini juga terjadi saat anda mengantri, main serobot antrian itu sudah hal yang lazim terjadi, itu semuanya karena mereka tidak peduli dan tidak bisa menghargai satu sama lainnya tutup pak riza.

Wah ini persis seperti yang saya alami, mereka samasekali tidak peduli bahwa saya telah mengantri duluan. Padahal secara kebijaksanaan umur, mereka jelas lebih tua dibanding saya.

Akhirnya setelah 15 menit berlalu, setelah semua antrian telah habis dan yang tersisa cuma saya sendiri, barulah sang pemilik warung melayani saya.

“Bungkus 1, ayam kare.” kata saya, trus kata si ibu pemilik warung, “ya pak, sabar ya pak!”.
Saya tertawa menjawab: “iya, dari tadi sudah bersabar koq, kan tadi di serobot molo antriannya!”.

si ibu bergumam tidak jelas menjawab pernyataan saya tadi, intinya bahwa beliau tidak mampu mengantisipasi masalah antrian ini.

Di perjalanan pulang ke rumah, saya merenungkan kejadian tadi dan menghubungkannya dengan pendapat pak riza. Di mata saya, mereka yang nyerobot antrian saya tadi, memang tampaknya kurang peduli dengan saya dan lingkungan sekitar antrian tadi.

Mungkin ajaran opportunist lebih cocok bagi masyarakat Banjarmasin, ketimbang ajaran budaya untuk antri. Mereka opportunist mengambil setiap kesempatan yang ada untuk dijadikan keuntungan bagi diri pribadi mereka masing masing.

Kalau ada kesempatan untuk menyerobot antrian, kenapa tidak ? huehehehehe

Opportunist jelas jelas bertolak belakang dan bertentangan dengan kepedulian. ini pendapat batin saya.

Logika saya kembali berputar, bagaimana seandainya dua hal yang bertolak belakang ini, bisa dikawinkan ?. Seperti pengalaman api dan air, bila dipertemukan, akankah sama sama menjadi rugi ?

Tentu saja tidak, batin saya lagi, bila kita bisa menggunakan opportunist ini sebagai sarana kepedulian terhadap sesama, tentu yang terjadi bukan saling merugikan, namun saling menguntungkanlah yang terjadi. Tiap orang akan berlomba untuk peduli terhadap sesama.

Bayangkan, saat mengantri, tiba tiba yang di depan kita mempersilahkan untuk duluan, wah hati kita pasti bahagia, dan kita sangat berterima kasih terhadap orang di depan kita tadi. Orang tersebut pun bahagia, bisa memberikan sesuatu yang tidak bernilai kepada orang yang berada di belakangnya.

Bagi saya, pagi ini, saya mencoba untuk bersabar, dan memberikan 15 menit waktu yang saya miliki sebagai bentuk kepedulian saya. Kedepan, mudah2an saya bisa menjadi seorang opportunist yang mampu memberikan lebih banyak hal yang lebih baik lagi untuk banua kita ini.

 

makasih.

8 comments

  1. KAdang ulun malah handak umpat Oportunis jua , bila yang lain jua kayak itu :)

  2. wah realita di kalimantan selatan, terlihat di semua tempat antrian :)

  3. Realita banar mang ay tulisan pian neh
    gitu pang sifat orang Banjar neh ulun gen merasa sebagai anak banjar
    pertama kurang peduli (makanya jarang demo) wan kedua kurang sabaran

  4. Sy rs tiap org kemungkinan besar bs opportunist, jk tdk sadar & tdk belajar etika !!!
    Sy sebagai pendatang di kota Banjarmasin, Merasakan hidup disini sangat betah. Kota ini sangat stabil di lihat dari segi keagamaan, pendidikan & kemudahan mencari rejeki (bisnis). di Kota ini jg gudang berbagai organisasi / LSM & Komunitas.

    • alhamdulillah ada pandangan dari pendatang, selamat datang di Banjarmasin pak, semoga betah di sini. Memang terkadang, semut di seberang lautan bisa terlihat. Jadi sepertinya sangat dibutuhkan second opinion untuk masalah yang sama..

      t’kasih

  5. belum lagi pungli, parkir liar, dan apa-apa jadi duitnya..

Tinggalkan Komentar Anda di Sini