Dear Pak Dahlan Iskan

PLN

Kepada yang saya hormati Bapak Menteri BUMN Dahlan Iskan dimanapun sekarang bapak berada. Ijinkan saya sebagai masyarakat biasa melaporkan keluh kesah kami kepada bapak setelah bapak tidak lagi memimpin PLN seperti dulu. Kami yang selalu berharap agar kondisi kehidupan kelistikan makin membaik, justru harus menerima keadaan sebagaimana sebelum bapak berada disana.
Bapak DI yang saya hormati, sebelum saya berkeluh kesah, saya ingin mengungkapkan perasaan saya kepada bapak. Bapak adalah salah satu manusia Indonesia yang sangat langka, manusia sejuta solusi, dimanapun anda berada, dimanapun ada masalah, pasti dapat bapak beri solusi. Oleh karenanya, mohon pencerahan dan jalan keluar bagi masalah yang kami hadapai.
Bapak DI yang saya banggakan. Daerah saya berada di Provinsi Kalimantan Selatan, sebuah kabupaten yang bernama Barito Kuala dengan jarak 50an Km dari kota Banjarmasin. Kota saya adalah sebuah kota kecil yang damai, dulunya sebuah kota pelabuhan yang barada di muara 3 simpangan sungai, oleh karena itu diberi nama Marabahan. Selayaknya kota-kota laun yang punya motto, kami pun punya, yaitu Marabahan Kota BAHALAP. Apa itu Bahalap? bahalap dalam bahasa bakumpai artinya cantik, dan bahalap itu merupakan singkatan dari Barasih, Harum, Langkar wan Pantas. Bahalap adalah doa kami bagi Marabahan agar selalu bersih, mempesona dan memberi ketentraman.
Sayang, semua itu berubah ketika negara api menyerang, ups, maksudnya ketika listrik hadir ditengah-tengah kami. Listrik yang begitu indah, dan membuat kami kecanduan, hingga kami sakau jika listrik tak menyala. Ketika hujan datang, maka blappp, listrik akan padam. Sejak itu berubahlah kepanjangan BAHALAP menjadi : BILA AIR HUJAN mAKA LISTRIK AKAN PADAM. Ya, inilah kenyataan yang kami hadapai. Bahwa setiap kali hujan, maka siap-siap saja dengan lampu darurat atau lilin. Dan itu belum termasuk dengan padam-padam saat kena giliran pemadaman, alias pemadaman bergilir yang hobi sekali dilakukan oleh PLN kalselteng.
Bapak DI yang saya sayangi, itulah cerita saat bapak belum jadi Dirut PLN. Ketika bapak bertahta disana, maka amanlah listrik kami, saya yakin umumnya se-kalsel merasakan listrik yang nyaman, hitung-hungan PLN sudah menunjukkan kalau daya yang dihasilkan sudah surplus, sehingga tidak akan ada lagi pemadaman bergilir. Ketika hari hujan pun kami masih bisa menikmati cahaya lampu dari listrik PLN, katanya pohon-pohon yang berada disekitar jalur listrik sudah ditebang. Alhamdulillah, walau sekali dua kali mati kami masih bisa menerima dengan lapang dada.
Kini, ketika bapak naik jabatan menjadi menteri BUMN, entah kenapa PLN tempat saya lagi-lagi bikin muak masyarakat. Hari hujan MATI, gak hujan juga MATI. Lalu salah dimana lagi? katanya listrik surplus, katanya pohon sudah ditebang, lalu ini masalah apa lagi? masya allah, apa lalu ketika bapak jadi menteri kemudian listrik kami minus lagi, atau pohon-pohon di sekitar jalur listrik tumbuh besar lagi?
Bapak DI yang saya banggakan, tolong beri kami solusi, biar listrik kami enak lagi. PLN tak pernah cerita kenapa listrik sekarang sering mati, mereka membiarkan kami kebingungan dan putus asa. Kami mengerti kalau sudah dijelaskan, dan diberi gambaran solusi. Kalau didiamkan seperti ini maka jangan salahkan saya sebagai masyarakat yang tidak tau informasi ini mengumpat, marah, dongkol, dan memfitnah PLN dengan kata-kata kasar, melemparkan sumpah serapah pada mereka, karena mereka sendiri yang buat saya jadi begini. Tanyakan pada malaikat berapa banyak kata-kata kasar yang kami lemparkan saat tiba-tiba listrik padam, yang alim berucap “Astagfirullah” yang lagi mengetik berucap “Waduh, babungulan PLN nih”.

Mudah-mudahan, sekedar sumpah serapah ini jadi bahan pemikiran bapak untuk memperbaiki kinerja PLN, khususnya keadaan listrik di kota kami nan kecil, Marabahan, Barito Kuala, Kalimantan Selatan.

PLN
PLN

5 Comments

Leave a Reply

Tinggalkan Komentar Anda di Sini