website statistics
Home » Opini » Hidup Apa Adanya !
Hidup Apa Adanya !

Hidup Apa Adanya !

Mungkin sebagian dari kita masih ingat syair lagu Kolam Susu karya Koes Plus seperti berikut:

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupmu

Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Hidup di negeri ini begitu mudah, tanahnya subur, hasil lautnya berlimpah, tanpa kerja keraspun, semua orang bisa hidup nyaman di negeri ini. Begitulah mungkin gambaran negeri tercinta ini menurut lagu tersebut, tapi benarkah seperti itu ?

foto Hidup Apa Adanya !   Bukan Kolam Susu

Bukan Kolam Susu - Foto kfk.kompas.com

Saat membaca ulasan antaranews tentang sebuah buku yang berjudul “Sebulir Gandum, Segudang Derita” mungkin wawasan kita akan dibawa menuju ke arah sebuah ranah pemikiran lama, betapa negeri ini sebenarnya berada dalam posisi yang tidak menguntungkan.

Banyak kebutuhan pokok yang sebenarnya bisa kita produksi secara lokal dan sanggup kita penuhi secara mandiri, ternyata dalam kenyataannya masih kita impor dengan persentase jumlah yang luar biasa besarnya.

Menurut ulasan itu juga, data yang diolah dari Departemen Perdagangan dan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Indonesia mengimpor 90 persen susu, 70 persen kedelai, 50 persen garam, 30 persen gula, 30 persen daging sapi, dan 30 persen bawang putih.

Garam kualitas satu yang dihasilkan petani lokal dihargai Rp325/kg sedangkan kualitas duanya dibandrol Rp250/kg. Sementara harga garam impor Australia justru dihargai Rp800/kg dan dari India Rp650/kg (Keputusan Menteri Perdagangan No. 21 tahun 2007). “Keajaiban” ini tidak hanya membuat miris tapi juga gerah (sumber: antaranews)

Kalau menurut saya pribadi, sebenarnya tidak ada keajaiban dengan perbedaan harga tersebut, namun soal miris dan gerah saya setuju, tapi bukan dengan garam impor, namun terhadap petani lokal.

Silahkan anda mencoba cari di google dengan kata kunci: “kualitas garam lokal jelek”, anda akan temukan banyak hal di sana. Salah satunya adalah artikel di Media Indonesia per tanggal 10 agustus 2011:

“Harga masih di bawah Rp500/kg karena produksinya jelek. Harusnya, di luar (negeri), dengan teknologi yang baik, garam itu diendapkan dulu sampai 60 cm, 1 meter, tidak dipanen-panen. Di atas itu baru dipanen, sedangkan di sini panen dikeruk sampai kena tanahnya,” .

Begitulah kenyataan yang terjadi, petani garam kita ternyata bukan hanya tidak mampu mencukupi kebutuhan nasional, namun mirisnya, petani kita tidak mampu memproduksi garam dengan kualitas yang standar.

Itu baru soal Garam. Kalau teringat cerita Ayah saya di tahun 2000-an, tentang sikap nelayan lokal di Kalimantan Selatan, mungkin anda pun akan geram dan miris. Kebetulan beliau bekerja di perusahaan joint venture Indonesia-Jepang untuk ekspor udang Indonesia ke Jepang.

Saat itu beliau melihat potensi udang papai (bahasa lokal) untuk dijadikan komoditas ekspor. Namun untuk memenuhi standar ekspor, nelayan diminta untuk memproduksi udang papai kering dengan standar seperti yang diminta oleh pasar internasional.

Perusahaan sudah memberikan tawaran pelatihan gratis dan kesiapan untuk membeli semua hasil produksi nelayan tersebut. Namun apa jawaban dari nelayan kita ?

“Kada perlu gin nang kaya itu, aku beulah yang kaya ini gin, payu ja jua di jual” (bahasa Banjar)

“Gak perlu bikin seperti itu, bikin seperti ini juga, masih laku koq !”

Betul kata Bapak saya, memang laku, tapi dengan harga murah, dan pembeli yang terbatas. Kita dari perusahaan ingin agar udang para nelayan bisa dibeli dengan harga layak dengan kualitas ekspor ke pasar internasional.

Berulang kali Bapak saya mengajak nelayan nelayan tersebut, dari ujung Pulau Laut (Kotabaru), sampai ujung pantai Batakan (Pelaihari), semua menolak dengan alasan yang sama.

Begitulah orang negeri ini, gumam Bapak saya, mereka, saking seperti syair lagu kolam susu tersebut, semua jadi hidup apa adanya. Tapi begitu ada investor luar yang masuk dan menggarap semua produk perikanan di sana tanpa bantuan para nelayan lokal, barulah mereka ribut, barulah mereka berpikir untuk memproduksi sesuai standar ekspor. Kalau seperti itu terus, tidak akan ada gunanya, selamanya lah di jajah, keluh Bapak saya.

Sepertinya syair:

Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Lebih cocok diganti menjadi:

Banyak badai Asing Kau temui
Kau Telat, Ikan dan udang menghampiri mereka

Semoga kisah ini bisa memotivasi kita untuk menghadirkan persaingan di setiap usaha kita. Agar kedepannya, jiwa jiwa Apa Adanya, akan menghilang dari setiap diri pribadi kita. Amiiin.

p/s: Tulisan Hidup Apa Adanya ! diambil dari blog milik saya pribadi.

4 comments

  1. betul bang, sikap masyarakat Indonesia masih banyak seperti ini… saya prihatin bang!

  2. Bujur Dangsanakai.. Kami di proyek perumahan ni lah merasa banar… Kenapa kami memakai tukang2 bangunan dari pulau seberang (padahal perlu biaya transport dan upah kerja mereka lebih mahal) dan sering menolak tukang2 bangunan lokal yang datang minta pekerkaan, karena kualitas pekerjaan dan disiplin kerja mereka lebih bagus. Sudah jua kami memberi arahan kawan2 pekerja lokal, tapi jawabnya ya kurang lebih seperti jawaban nelayan diatas.

    • klo soal buruh bangunan ne, ulun ngerti banar om ae. Sudah rancak pengalaman.

      Etos kerjanya kurang, Tapi coba aja, begitu ada saingan dari luar pulau, langsung ae ribut ribut yang lokal..

Tinggalkan Komentar Anda di Sini