Mencuci Piring Bersama

Pada hari Sabtu nenek berkunjung ke rumah ketika ibu sedang menuangkan sabun cuci piring. Sedang beres-beres? Saya menguping pembicaraan mereka. Dari ujung mata saya, saya melihat mereka berpelukan dan ibu mencium tangannya. Sebelumnya saya juga melakukan hal yang sama. Pekerjaan mencuci piring itu memang tidak ada habis-habisnya, ya? Selalu saja ada piring atau gelas kotor yang perlu dibersihkan. Enak kalau ada pembantu, tapi kalau semua dikerjakan sendiri melelahkan juga, bukan? Selama nenek berbicara itu ibu tetap berkonsentrasi pada pekerjaanya.

 

Apalagi jaman dulu, nenek bilang, ketika saya mendengar nenek mengucapkan itu saya sedang melangkah ke dapur. Memangnya jaman dulu kenapa, nek? Tanyaku. Lalu diapun mulai bercerita, dia bilang jaman dulu itu tidak ada sabun cuci piring, tapi semua orang menggunakan abu gosok untuk membersihkan piring kotor dan segalanya. Abu gosok itu apa, nek? Nenek menjelaskan kalau abu gosok itu adalah sisa pembakaran padi yang dipanen di ladang. Mendengar penjelasan itu saya semakin tertarik, bisa memang ya abu sisa pembakaran itu dipakai untuk membersihkan? Tentu saja, nenek bilang. Bahkan abu itu digunakan juga untuk mencuci rambut. Jaman dulu itu tidak ada shampo, katanya.

 

Ibu kemudian berkata sambil bercanda padaku karena itulah nenek memiliki rambut yang putih. Kami bertiga pun tertawa bersama. Sambil beranjak nenek lalu bertanya pada ibu, masih banyak piring kotornya? Seketika di hari Sabtu itu pun ada kegiatan baru yang kami lakukan bersama. Nenek, ibu, dan cucunya saling membantu mencuci piring bersama. Sebuah kegiatan yang sederhana, namun begitu menyenangkan.

Tinggalkan Komentar Anda di Sini