website statistics
Home » Opini » Rating Pengunjung Blog Meningkat Tajam Dalam Sehari
Rating Pengunjung Blog Meningkat Tajam Dalam Sehari

Rating Pengunjung Blog Meningkat Tajam Dalam Sehari

foto Rating Pengunjung Blog Meningkat Tajam Dalam Sehari   rating blok1110

Pengunjung Blogku (http://khairilyulian.wordpress.com) meningkat tajam, karena aku mengUpload hasil pengumuman kelulusan seleksi CPNS Kalimantan Selatan tahun 2010. Hal ini merupakan indikasi bahwa pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) merupakan yang paling dicari saat ini. Hal ini juga mengindikasikan bahwa jiwa enterpreneur (wirausaha) masih belum melembaga dalam budaya lulusan Sekolah Menengah Atas dan Perguruan Tinggi kita.

Dalam hubungannya dengan permasalahan ini, ada sebuah riwayat yang menarik untuk kita simak.

Seorang Perempuan datang menemui Abu Hanifah. la ingin menjual kainnya. Sebagaimana dicatat sejarah, Abu Hanifah merupakan seorang ulama generasi thabiin yang susah dibedakan apakah dia ulama yang saudagar atau saudagar yang ulama.

“Berapa kamu jual kain ini?” tanya Abu Hanifah.
“Seratus dirham!” jawab perempuan itu. Ternyata kain yang dibawa perempuan itu sangat bagus, bermutu, dan mahal. Namun perempuan tersebut tidak tahu harga kain itu sebenarnya. Entah dari mana dulunya ia memperoleh kain itu, ia lupa. Adapun Abu Hanifah, seorang saudagar yang begitu menguasai dunia pasar, langsung mengetahui kualitas kain tersebut. Namun hal itu tak menjadikan sang Imam punya niat buruk untuk memanfaatkan kesempatan apalagi berlaku curang. Maka, dialog pun berlanjut.

“Harga kainmu ini jauh lebih mahal daripada seratus dirham. Coba kamu tawarkan dengan harga yang lebih tinggi,” ujar Abu Hanifah.
“Bagaimana kalau dua ratus dirham?” tanya perempuan itu.
“Kainmu masih lebih bagus daripada dua ratus dirham!” sahut Abu Hanifah.
“Tiga ratus dirham!”
“Kainmu masih lebih mahal dari harga itu!” “Kalau begitu, belilah dengan harga empat ratus dirham.”
“Kainmu sebenarnya masih lebih mahal dari empat ratus dirham, tapi aku akan membelinya dengan harga itu!” kata Abu Hanifah. Transaksi pun berlangsung. Keduanya pun sepakat dengan harga itu.

Kini dialog tersebut sepertinya tak mungkin terjadi dalam dunia nyata. Mungkin hanya akan kita dapatkan pada dunia cerita, drama atau hikayat. Kini, sepertinya mustahil ada seorang pedagang yang menawar harga barang melebihi harga yang diinginkan penjual. Kini, tak mungkin kita temukan pedagang minta agar harga belinya dinaikkan. Namun tidak demikian dengan kisah perempuan dan Abu Hanifah di atas. Kisah yang diriwayatkan oleh al-Maqdisi itu benar-benar ada, betul-betul terjadi.
Selain jiwa suci dan kejujuran, banyak petikan hikmah yang bisa kita tuai dari sosok Abu Hanifah. Tokoh thabiin yang hanya sempat bertemu dengan tujuh sahabat Nabi ini merupakan ulama peletak dasar mazhab Hanafi. Selain dikenal sebagai ulama, ia juga adalah seorang saudagar sukses.

****

foto Rating Pengunjung Blog Meningkat Tajam Dalam Sehari   enterpreneur110Bagi kaum Muslimin, jiwa entrepreneuratau wirausaha ini menarik untuk dilirik. Apalagi ketika tingkat kebutuhan tenaga kerja semakin tidak bisa mengimbangi kecepatan jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) yang tersedia. Tenaga kerja yang ada jauh lebih banyak daripada kebutuhan. Angka kebutuhan penerimaan Pegawai Negeri Sipil (PNS) tak mampu menampung jebolan Sekolah Menengah Atas atau Perguruan Tinggi. Instansi swasta pun demikian. Yang terjadi justru sebaliknya.
Di tengah lilitan kebutuhan ekonomi sekarang, ribuan pabrik dan perusahaan swasta justru banyak yang mem-PHK karyawannya. Akibatnya, angka pengangguran membengkak. Ratusan ribu lulusan perguruan tinggi menganggur. Bangsa ini kelebihan tenaga kerja. Ujungnya, kita dipaksa “menjual” para tenaga kerja itu ke luar negeri dengan segala penderitaannya.

Di sisi lain, seharusnya fenomena ini membuat anak negeri ini merenung. Selain terbatasnya lahan penerimaan PNS atau karyawan swasta, bangsa ini juga membutuhkan sosok-sosok entrepreneur. Kekayaan alam yang berlimpah, SDM yang membludak dan kebutuhan ekonomi yang kian membengkak, menghajatkan kita untuk belajar bekerja mandiri. Masyarakat bangsa ini mulai harus mengubah paradigma berpikirnya dari harus menjadi PNS menjadi -mengutip judul buku karangan Valentino Densi- Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian.

Saatnya para karyawan merenung. Fakta menyebutkan, tingkat kenaikan gaji para karyawan, baik PNS maupun swasta, tak mampu mengejar tingkat pertambahan kebutuhan sehari-hari. Belum lagi. kalau ia harus mengubah nasib dengan mempunyai kendaraan atau rumah besar, misalnya.

Kita renungkan, berapa lama waktu yang diperlukan seorang karyawan yang menerima gaji Rp.2.000.000,- per bulan, agar bisa memiliki rumah seharga 200 juta rupiah? la harus menabung selama 100 bulan atau delapan tahun lebih. Itu pun kalau ia menyimpan seluruh penghasilannya sebanyak Rp.2.000.000,- tersebut setiap bulan tanpa dipotong untuk kebutuhan makan, tempat tinggal, sekolah anak dan lainnya.

Dengan kondisi demikian, mungkinkah ia berharap bisa memiliki kendaraan roda empat? Kalau saja ia berharap mendapatkan kendaraan atau rumah seharga Rp.2.000.000.000,- maka orang yang berpenghasilan Rp.2.000.000,- per bulan tadi harus menabung-tanpa makan dan minum-selama 1000 bulan.

Pertanyaannya, bagaimana mungkin mereka yang selama ini duduk sebagai PNS tapi bisa memiliki semua kemewahan itu?

Dalam analisanya yang ia tulis di bukunya Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian, Valentino Dinsi menyebutkan, PNS atau mereka yang bekerja sebagai karyawan swasta level menengah ke bawah, hanya bisa kaya dengan lima cara. Yaitu:

  1. menikah dengan orang kaya
  2. mendapatkan warisan
  3. menang undian
  4. bekerja sampingan, dan
  5. korupsi.

Tanpa pertu menuduh, kita bisa buktikan mana di antara lima hal itu yang paling banyak dilakukan.

Merenungkan hal tersebut, selayaknya penghuni negeri ini mengubah paradigma berpikirnya. Paradigma sebagian masyarakat kita masih banyak yang ngotot memaksakan anaknya harus diterima di PNS dengan berbagai cara termasuk suap-menyuap dan nepotisme. Paradigma ini harus diubah dengan paradigma baru. Yaitu, mendidik generasi muda dengan jiwa wirausaha.
Dengan demikian, begitu lulus dari SMA atau perguruan tinggi, generasi kita tak lagi belajar bagaimana menulis lamaran pekerjaan, tapi belajar cara membuat proposal bisnis. Mereka tak lagi berbondong-bondong menenteng map melamar jadi pegawai, tapi beramai-ramai membuka usaha baru.

Jika jiwa wirausaha ini bisa kita tumbuhkan sejak dini, kita berharap negeri ini akan bangkit dari keterpurukan. Kekayaan alam yang melimpah ruah ini bisa kita kelola sendiri tanpa harus mengundang orang asing. Syaratnya satu, kita mau berubah. “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS ar-Ra’d: 11).

20 comments

  1. Baek jadi blogger daripada jadi pns,, :)

    Makasih banyak pa infonya

  2. wah mantap nian artikelnya

  3. Kalau ada kawan2 Blogger yg mau bantu saya mengembangkan dunia wirausaha, silahkan gabung di pasar-banua.com

  4. wew, keren ne artikelnya, , ,, menggugah

  5. bakajutan naiknya..
    tapi biasanya KW nya kd bertahan lawas.. hehe :)

  6. Pengunjung meningkat, mantap!!!,siapa yang ga Mau?! Sukses slalu bro.

  7. Mantap banget nih pengunjungnya

  8. nice artikel bro… bagus2. q insya allah akan jadi entrepreuner. impianku melebihi abdurrahman bin auf… aimn salam kenal

  9. Artikel yang menarik & menggugah… Saatnya berbangga menjadi wirausahawan…

  10. artikel yang sangat mencerahkan

  11. lanjutkan gan,,keerreennnn

Tinggalkan Komentar Anda di Sini