Royal Golden Eagle Mendukung Pemberdayaan Perempuan di Indonesia

Royal Golden Eagle Mendukung Pemberdayaan Perempuan di Indonesia

Potensi perempuan sering disepelekan. Padahal, kalau didukung dengan baik, mereka bisa menjadi salah satu pendorong kemajuan bangsa. Royal Golden Eagle (RGE) selalu siap mendukung pemberdayaan perempuan di Indonesia.

Peran perempuan di Indonesia memang tidak bisa dianggap remeh. Pada 2016, Gubernur BI saat itu, Agus DW Martowardojo, menyatakan bahwa salah satu faktor penting yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi domestik adalah peranan kaum wanita di Indonesia.

Ia mengatakan wanita memiliki peran yang besar dalam mendorong perekonomian nasional. Peran kaum wanita Indonesia sangat signifikan dalam mendorong sektor riil. Hal ini pun terbukti dari penelitian yang dilakukan Bank Dunia pada tahun 2016.

“Data Bank Dunia tahun 2016 menunjukkan rasio kepemilikan usaha wanita di Indonesia lebih tinggi dibandingkan dunia, terutama pada Usaha Kecil Menengah (UKM),” kata Agus dalam sambutannya pada acara Pertemuan Tahunan BI, Selasa (22/11/2016), di Kompas.com.

Hal senada diungkapkan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla. Ia menyoroti bahwa perempuan tidak bisa lagi dipandang remeh. Perkembangan teknologi dikatakannya bakal mendorong para wanita untuk berperan penting dalam kemajuan bangsa.

“Teknologi mengubah kehidupan perempuan, maka tentu kehidupan itu diisi oleh suatu kehidupan kegiatan yang lain yang lebih produktif,” ujar Jusuf Kalla di Republika.com.

Banyak pihak yang telah menyadari peran perempuan sedemikian penting. Namun, fakta yang ada, masih banyak wanita di Indonesia yang belum bisa memperlihatkan potensinya secara maksimal.

Royal Golden Eagle termasuk pihak yang tahu persis hal tersebut. Maka, sebisa mungkin perusahaan yang berdiri sejak 1973 ini mendukung berbagai bentuk kegiatan pemberdayaan perempuan.

Dukungan kepada wanita dimulai dari internal perusahaan terlebih dulu. Anak-anak perusahaannya selalu memberi kesempatan yang sama kepada para wanita untuk berkarier. Kesempatan tidak dibatasi dan dipersilakan untuk bersaing secara sehat.

Tidak aneh di anak-anak perusahaan RGE, para wanita bisa bekerja di bidang apa saja. Bahkan, mereka ada yang berkiprah di bidang yang sering identik dengan para pria.

Hal ini terlihat di salah satu anak perusahaan Royal Golden Eagle,  Grup APRIL. Di sana para wanita bebas bekerja sesuai kemampuannya. Pasalnya, di perusahaan yang bergerak di industri pulp dan kertas ini, kapasitas dan kapabilitas yang diukur.

Itsna Lathifa yang kini bekerja sebagai Acting Process & Pulp Product QA Area Head di PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP) adalah contohnya. Ia mampu membuktikan bahwa perempuan juga bisa berkembang.

Itsna bergabung ke RAPP pada 2005. Awalnya ia bekerja sebagai teknisi di Technical Department. Ada banyak tantangan yang dihadapi ketika menjalani pekerjaan. Salah satunya adalah keharusan bekerja shift malam.

Kondisi ini sempat membuat orang tua Istna gundah. Namun, Itsna mampu meyakinkan bahwa RAPP telah mengatur semuanya secara profesional sehingga tidak ada yang perlu ditakutkan.

Kerja keras membuat karier Itsna terus menanjak. Ia bahkan sempat dipercaya untuk menempuh pendidikan S2. Saat itu, RAPP menawarinya beasiswa ke Asian Institut of Technology di jurusan Pulp and Paper Technology di Thailand. Itsna pun mengikuti seleksi meski orang tuanya khawatir karena jika diterima ia bakal hidup di negeri asing.

Beruntung Itsna lolos ujian dan memperoleh beasiswa tersebut. Berkat itu, ia menjadi wanita pertama yang mendapatkan kesempatan belajar di Thailand dari RAPP. “Saya sempat kaget ketika mengetahui bahwa dari empat orang yang berangkat ke Thailand, hanya saya saja yang perempuan. Selain itu juga ternyata sebelumnya belum ada perempuan yang berhasil meraih beasiswa ke Thailand dari perusahaan,” katanya.

Sekembalinya dari sana, Itsna mampu mempraktikkan ilmunya dengan baik. Ini membuat kariernya semakin berkembang hingga berada di posisi sekarang. Menduduki jabatan tersebut membuat Istna menjadi sosok krusial dalam proses produksi. Akibatnya, ia sering melakukan pertemuan dengan jajaran direksi yang dirasanya membanggakan.

“Bagi saya, ketika bisa meeting dengan para direktur dan pendapat saya didengar oleh mereka, itu merupakan hal yang sangat membanggakan. Bahkan saking bangga, saya pernah mengirimkan foto ketika saya meeting dengan para direktur ke Ibu saya, dan saya satu-satunya perempuan yang ada di sana,” ujar Istna.

Kisah Itsna memperlihatkan bahwa Royal Golden Eagle memberi kesempatan kepada siapa saja untuk berkembang. Asal ada kemauan, perempuan juga bisa berkembang.

“Secara prinsip, ketika bekerja sebetulnya tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan,” ujar Itsna. “Jadi saya tekankan kepada mereka (para wanita, Red.) untuk tetap berusaha. Jangan membatasi diri hanya karena perempuan lantas tidak bisa. Hilangkanlah pemikiran seperti itu,” ucap Istna.

 

MEMBERDAYAKAN IBU RUMAH TANGGA

MEMBERDAYAKAN IBU RUMAH TANGGA
Image Source: Kompas.com https://ekonomi.kompas.com/read/2016/11/18/190000626/rapp.tingkatkan.ekonomi.masyarakat.melalui.tanoto.foundation

Pemberdayaan perempuan sudah dijalankan oleh Royal Golden Eagle dengan menjalankan kesetaraan gender di internal perusahaan. Namun, perusahaan yang lahir dengan nama Raja Garuda Mas ini juga memperluas dukungan serupa ke luar. Bekerja sama dengan Tanoto Foundation, mereka memberdayakan ibu rumah tangga di sekitar area perusahaan.

Saat ini, APRIL berbasis di Pangkalan Kerinci, Riau. Di sana mereka tahu banyak istri yang hanya menganggur di rumah. Padahal, mereka memiliki waktu yang lumayan luang setelah mengurus rumah tangga.

Bersama dengan Tanoto Foundation, APRIL menggelar program pelatihan membatik agar bisa dijadikan sumber penghasilan.

APRIL memulai pelatihan membatik sejak 2013 dengan mendirikan Rumah Batik Andalan tahun 2014. Ketika itu, mereka memulai dengan mengajak para perempuan di sekitar perusahaan untuk bergabung. Mereka kemudian mendapat bimbingan dari sejumlah instruktur yang didatangkan secara khusus.

Seiring waktu, pelatihan tidak hanya dilakukan di Pangkalan Kerinci. APRIL mengirim para peserta untuk belajar langsung di pusat batik nasional seperti Yogyakarta, Surakarta, serta Pekalongan.

Kegiatan ini rupanya mampu menghadirkan dampak positif bagi para perempuan di sekitar perusahaan. Banyak di antara mereka yang jadi memiliki penghasilan karena bisa menjual batik buatannya di Rumah Batik Andalan.

Salah satu contohnya adalah Hari Fitri Ramdhani yang berasal dari Pangkalan Kerinci. Sebelumnya Fitri tidak memiliki penghasilan sendiri karena mengurus rumah tangga. Kondisi ini membuat kehidupannya sulit. Sebab, pekerjaan suaminya sebagai montir serabutan belum mencukupi.

Akan tetapi, semua berubah sejak Fitri ikut pelatihan membatik yang dilakukan oleh Tanoto Foundation dan APRIL. Ia jadi memiliki keterampilan membatik yang hasilnya bisa dijual. Berkat itu, Fitri mengaku ia dan suami mampu membeli rumah.

Fitri menjual batik buatannya di Rumah Batik Andalan. Ia melakukannya di bawah naungan Koperasi Andalan bersama sejumlah rekan.

“Kami kini memiliki pembeli lain, seperti tamu-tamu PT RAPP yang membeli batik sebagai cinderamata, pegawai pemerintah daerah, pekerja dari perusahaan sekitar, dan masyarakat setempat yang membeli batik dari toko kami di Pangkalan Kerinci,” ujarnya.

Kisah senada juga dipaparkan oleh Yusfaini. Ibu rumah tangga ini sangat ingin membantu suaminya mendapatkan penghasilan. Selama ini suami Yusfaini bekerja di perkebunan mengurus kebun kelapa sawit.

Mulanya Yusfaini tidak tahu apa yang harus dilakukan. Namun, beruntung ada Rumah Batik Andalan yang mengajari keterampilan membatik. Alhasil, program pemberdayaan masyarakat anak perusahaan Royal Golden Eagle dan Tanoto Foundation ini berhasil mengubah hidupnya.

“Dari tidak bisa apa-apa, kini saya bisa membatik berkat pelatihan dari Tanoto Foundation. Saya juga dibantu untuk memasarkan produk batik saya. Hasilnya cukup untuk menambah penghasilan keluarga,” tutur Yusfaini.

Yusfaini dan Fitri hanya sebagian contoh. Hingga tahun 2015, bersama Tanoto Foundation, APRIL tercatat telah menyediakan pelatihan manajemen bisnis kepada 215 pengusaha kecil dan menengah, serta melatih keterampilan usaha bagi 144 orang.

Ini merupakan bukti bahwa Royal Golden Eagle mendukung pemberdayaan masyarakat, terkhusus para perempuan.

Image Source: Aprilasia.com

http://www.aprilasia.com/id/our-media/artikel/kisah-itsna-perempuan-pertama-yang-meraih-beasiswa-ke-thailand

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.